Hai, selamat datang di Diari Hitam saya. Saya Kaka Wiba, saya seorang penulis lagu. Usia saya 23 tahun. Saat saya menulis ini, saya sedang dalam keadaan depresi berat. Saya tidak tahu harus menceritakanya pada siapa. Saya seorang broken home. Saya tidak punya siapa - siapa. Dan saya hanya sendirian. Saya hanya bisa menulis lagu dan memainkan alat musik untuk menghibur diri sendiri. Mungkin suatu saat saya akan memposting lagu - lagu saya di sini. Hanya agar kalian tahu apa yang saya rasakan selama ini. Dan kalian tidak perlu merasakanya.
Betapa kacaunya hidup saya. Semua berawal dari perceraian orang tua saya. Saat itu saya masih berusia 5 tahun. Saya tidak tahu apa yang terjadi saat itu. Sampai akhirnya saat usia saya 9 tahun saya menyadari bahwa mereka sudah tidak lagi bersama. Mereka adalah dalang dari kekacauan ini. Merekalah yang paling pantas disalahkan. Tapi mereka pandai menutupi kebohongan mereka. Dan membuat seolah - olah saya yang bersalah. Seolah - olah yang terjadi pada diri saya adalah mutlak kesalahan saya. Mereka selalu menganggap saya seperti binatang yang harus disingkirkan.
Selama ini saya selalu mendapat porsi kesengsaraan lebih banyak dibanding orang dari keluarga baik - baik. Sampai - sampai saya harus merasakan hidup sebagai anak jalanan saat saya masih sekolah. Saya lakukan itu demi mempertahankan sekolah saya. Tidak hanya sampai di situ, saat dewasa ini saya sering ditolak untuk mendapatkan pekerjaan karena status broken home saya. Terkadang saya harus berbohong untuk bisa mendapatkan pekerjaan. Entah berapa banyak caci maki yang sudah saya telan. Dari keluarga saya, dan dari orang lain. Saya tidak tahu kenapa saya berbeda. Drama yang dibuat oleh Tuhan sangat merugikan saya.
Saya tidak tahu bagaimana saya akan membereskan kekacauan ini. Saya juga tidak tahu apakah saya bisa berjuang sendirian. Saya sangat muak saat orang lain berkata kepada saya bahwa saya harus sabar menghadapi ini semua. Mereka bilang, bahwa suatu hari nanti saya akan mendapatkan kebahagiaan. Saya mempercayai itu, tapi......saya takut. Saya sangat takut, saat saya mendapatkanya saya tidak sanggup menghadapi masa lalu saya yang sangat kelam. Saya takut saat saya tiba - tiba mengingat kesedihan masa lalu saya, mengingat kesedihan hari ini, mengingat saat saya menulis ini. Saya takut jika kelak itu akan menyayat batin saya.
Ini benar - benar depresi yang luar biasa. Sangat......sangat.......sangat menyiksa pikiran saya. Saya mencoba untuk tidak mengulang hal paling buruk yang dulu pernah saya lakukan. Saat saya mencoba untuk menghabisi nyawa saya sendiri. Saya tidak ingin mengulangi itu. Tapi setan - setan di kepala saya tak henti - hentinya berkata bahwa saya bisa melakukanya, dan harus melakukanya lagi.
Saya menderita Bipolar, kalian tahu apa itu?. Demi Tuhan, itu semakin menyiksa saya. Saya takut saya mati perlahan karena itu. Saya seperti terkoyak saat perasaan saya berganti secara ekstrim. Pikiran saya menjadi sangat gelap. Terkadang saya menangis untuk hal yang tidak saya mengerti. Terkadang saya merasa sangat marah. Hati saya sangat penuh dengan kebencian. Kebencian kepada keluarga saya, pada orang tua saya, pada hidup saya, dan juga benci pada diri saya. Saya ingin sekali mengakhiri ini semua. Tapi saya tidak bisa melakukanya. Saya juga tidak bisa memaafkan diri saya jika itu terjadi.
Kawan, siapapun kalian. Di manapun kalian berada. Dari keluarga yang seperti apapun kalian. Dan bagaimanapun keadaan kalian. Jaga keluarga kalian baik - baik. Itu adalah hal paling berharga milik kalian, yang saya tidak punya. Kalian sangat beruntung memilikinya. Jika kalian masih bersama orang tua kalian. Rawat dan berbaktilah kepada mereka. Itu adalah hal yang tidak akan pernah bisa saya lakukan. Saya sudah terlambat untuk itu. Kalian sangat hebat bisa melakukanya.
Atau kalian yang sudah memiliki pasangan hidup. Dan sudah memiliki buah hati. Jaga, rawat, dan didiklah buah hati kalian dengan sepenuh hati. Jangan biarkan mereka merasakan kesengsaraan yang tak berujung. Dan setialah pada pasangan kalian. Agar buah hati kalian tidak menjadi korban. Agar tidak merusak dirinya sendiri. Agar tidak merasakan apa yang saya rasakan.
Saya telah merusak diri saya dengan rokok saat usia saya 12 tahun. Dan merusak dengan alkohol sejak usia 13 tahun. Itu masih berlanjut sampai hari ini. Saya sudah mencoba untuk menghentikanya. Tapi saya tidak bisa. Dan itu tidak bisa dihentikan. Sudah tidak bisa. Tidak akan pernah bisa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
What do you think, my friend?